Skip to main content

Maunya seperti apa?

Akhir akhir ini baca berita berita tentang dunia pendidikan dan semua hal yang terkait membuat saya mengelus dada sambil istighfar terus. Gak habis pikir dibuat para "Orang orang pintar " yang sudah "anteng" menikmati kenyamanan dari hasil keringat orang orang kecil yang banting tulang tiap hari. Tapi sisi positifnya kelakuan mereka bikin kita banyak istghfar yang akan membantu menghapus dosa dosa kita.

Dari jaman saya sekolah sampai sekarang jadi guru, masalah pendidikan di Indonesai ini koq ya gak nemu titik solusi yang pas. Banyak pengamat ngomong, banyak kritikan sudah disampaikan, bahkan saran saran juga sudah diutarakan tetap dibiarkan angin lalu atau mereka berlagak seperti peribahasa Anjing Menggonggong Kafilah berlalu. Atas nama usaha perwujudan kepedulian membangn pendidikan, studi banding ramai rmai dilakukan. Anggaran ribuan trilyun digelontorkan yang ujungnya enath nyampek kemana untuk membangun program program yang katanya akan memperbaiki kualitan generasi penerus bangsa, dari MBG, Pembuatan sekolah Unggulan (GARUDA). Digitalisasi Pembelajaran (penggunaan Interactive Whiteboard) di sekolah sekolah sampai hal hal tak masuk diakal lainnya. Yang semua berujung ke pemborosan Anggaran (menurut keyakinan gue).

Pertanyaan muncul, yang sekarang terjawab satu satu, "Apakah ini solusi?" 

Yang terlintas di pikiranku adalah slogan INDONESIA LAWAK KLUB (ILK) Menyelesaikan Masalah Tanpa Solusi. Bener lagi he he .... adanya Menyelesaikan masalah dengan nambah masalah.

Mereka ini seakan lupa inti masalah pendidikan itu semua berasal dari manusianya, entah itu pembuat kebijakannya, pimpinam pimpinan sekolah, guru, murid bahkan orang tua/wali murid bukannya malah bingung ngurusi makanan, pengguanaan teknoloig tidak cepat guna.

Kompleks memang jika dipikir, tetapi disini saya coba rangkum ya .... ini berdasarkan keyakinan gue.

1. Akademik Vs Kesehatan Mental

Yang sering saya dengar sekarang dari murid murid saya:

- Miss, aku capek

- Miss tugasnya koq banyak

- Pulang sekolah ini aku les piano, setelah itu les sepatu roda, les matematika sampai jam 9. Gak sempet ngerjain PRnya banyak les.

- Aku stress ..

Selain keluhan murid murid yang saya dengar setiap hari, banyak juga berita berita miris yang saya dapat dan baca sri media sosial, dari TV tentang anak anak yang bunuh diri karena tekanan sekolah, entah tidak naik atau bahkan gagal mendapatkan target mereka, juga ada tekanan sosial yang saya bahas di poin lainn.

Apa yang terjadi? Apakah anak anak sekarang lebih lemah secara mental dibanding kita dahulu. Malah ada yang berependapat bahwa anak anak sekarang manja, dikit dikit mengeluh. Apa bener begitu?

Saya antara tidak setuju tetapi juga setuju, tetapi permasalahan utama justru bukan di anak anaknya tetapi justru di orang orang dewasa baik orang tua, anggota keluarga yang dewasa bahkan guru.

Waduh, guru lagi guru lagi yang salah .... bukan ini maksud saya. Saya seorang guru dan sebagai guru kita sewajibnya rutin berefleksi, belajar dan berpikiran terbuka. 

Saya sering melihat, tidak sedikit orang tua yang menjadikan anak anak mereka sasaran untuk mimpi mereka atau keinginan mereka (orang tua) yang dulu tidak bisa diwujudkan. Orang tua sering memaksakan kehendak mereka seperti sekolah dimana, ambil jurusan apa, harus les ini dan les itu tanpa mencoba berdiskusi dengan anak anak. Ini bukan untuk memanjakan mereka , tetapi untuk mengkomunikasikan tujuan, mencoba memahami kebutuhan mereka dan membuat kesepakatan apa dan bagaimana, sehingga dalam prosesnya anak anak belajar untuk berkomitmen dan sebagai orang tua kita berperan sebagai pemnadu serata pendamping.

Ketidakmampuan anak-anak dalam menghadapi stres dan mengelola kondisi psikisnya sering kali justru berakar dari pola yang dibentuk oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. Pembiasaan yang muncul karena rasa kasihan, memilih jalan paling mudah agar tidak repot, atau bahkan demi menjaga gengsi dan kenyamanan diri sendiri, tanpa sadar dapat menjadi penyebabnya. Keinginan anak terlalu mudah dipenuhi tanpa mereka memahami alasan, kebutuhan, maupun tujuan di baliknya, sehingga mereka tidak terbiasa belajar tentang proses, usaha, dan perjuangan. Hal lain yang juga berpengaruh adalah ketidakkonsistenan orang dewasa dalam menerapkan aturan. Pengalaman pribadi saya sendiri (pernah terjadi dan tentu tidak untuk ditiru), ketika sedang lelah sepulang kerja, saya cenderung memberi pembiaran. Misalnya, saat anak meminta bermain gawai di hari sekolah, saya mengiyakan karena merasa terlalu capek untuk berdebat dan menganggap itu sebagai “self reward” setelah hari yang melelahkan.

Padahal, dari kebiasaan-kebiasaan kecil seperti inilah anak belajar tentang batasan, disiplin, cara menghadapi rasa tidak nyaman, dan kemampuan mengelola keinginan diri. Mungkin tantangan terbesar dalam mendidik anak bukan hanya mengatur mereka, tetapi juga belajar konsisten mengatur diri kita sendiri sebagai orang dewasa.

Tekanan akademik juga dapat menjadi salah satu penyebab anak kesulitan menghadapi stres dan menjaga kesehatan mentalnya. Harapan orang tua yang tidak disertai ruang diskusi maupun refleksi bersama sering kali membuat kita lupa bahwa anak-anak juga memiliki harapan, minat, dan arah hidup mereka sendiri. Padahal sejatinya, tidak ada anak yang bercita-cita menjadi “buruk”. Mereka unik dan istimewa dengan potensi yang berbeda-beda. Tugas orang dewasa bukan membentuk mereka menjadi salinan dari keinginan kita, melainkan memahami, mendukung, dan tetap mengarahkan mereka agar bertumbuh di jalan yang baik.

Saya cukup sering menemui situasi ketika anak dituntut untuk serba bisa. Hampir semua les diikuti demi mengejar standar tertentu, seolah semakin sibuk anak maka semakin baik pula masa depannya. Di sekolah, tekanan serupa juga terjadi. Fokus yang terlalu besar pada nilai dan pencapaian akademik — yang menurut saya juga dipengaruhi oleh kebijakan maupun penerapan sistem yang belum tepat — membuat sekolah berada dalam tekanan yang tidak sedikit. Ditambah lagi ekspektasi dari orang tua, sekolah akhirnya merasa harus terus mendorong murid mengejar target dengan cara apa pun.

Sayangnya, di tengah semua tuntutan itu, pertanyaan paling sederhana justru sering terlupakan: apakah anak baik-baik saja? Apakah mereka membutuhkan bantuan? Apakah mereka diberi ruang untuk mengevaluasi diri, memahami perasaannya, dan belajar merefleksikan prosesnya sendiri? Pendidikan seharusnya bukan hanya tentang mengejar capaian, tetapi juga tentang memastikan anak tumbuh sebagai manusia yang sehat secara mental, mengenal dirinya, dan mampu menjalani hidup dengan utuh.

sementara segini dulu ..... Lanjuuuut lagi saat senggang ya ....

2. Guru dengan terlalu banyak peran

3. Kesenjangan kualitas pendidikan (dengan SPPG ooops ....)

4. Sekolah sebagai ajang kompetisi

5. Kurikulum yang sering gonta ganti

6. Kemampuan literasi dan numerasi yang masih dibawah.

7. Hubungan orang tua dan sekolah yang semakin rumit dan ruwet seperti benang kusut.

8. Pendidikan karakter.



Comments

Popular posts from this blog

RPP Deep Learning??!!!

"Ini RPPnya kow begini ya, formatnya salah" "RPP merdeka belajar itu seperti apa? tolong dong contohnya." "Teman-teman, yang punya RPP Deep Learning.Tolong share" Percakapan seperti ini sering muncul setiap kali guru berkumpul. Setiap menjelang akreditasi, ribut soal format RPP. Ganti menteri, ribut lagi. Seolah format RPP menjadi hal yang paling penting dalam perencanaan pembelajaran. Padahal, buat saya, RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) bukan soal format atau template baku. Saya lebih suka menyebutnya lesson plan, karena esensinya adalah rancangan yang memandu guru dalam memfasilitasi proses belajar murid. Maka, aneh rasanya kalau semua guru harus mengikuti satu format yang seragam. Setiap guru punya gaya, cara, dan konteks yang berbeda. Fokus seharusnya bukan pada tampilannya, tapi isi RPP itu sendiri. Apakah ia benar-benar mencerminkan proses belajar yang bermakna? Keributan tentang format RPP sering ditemui setiap ketemu teman teman guru.Tiap...

Guru, Emosi dan Murid Bermasalah

Guru: "Kamu kemana tadi? kenapa tidak ikut jam pelajaran saya?" Murid: "Saya ikut sosialisasi bu. Saya sudah menuliskan nama di list, dan katanya akan dimintakan ijin?" Guru: "Gak ada namanu di list, kamu bohong ya?" Murid: "Gak bu, saya sudah menuliskan nama saya." Guru: "Sudah , pokoknya kamu salah." Murid: "Maaf bu, kalau saya salah." Guru: "Dah, kamu tidak usah ikut UH dan tidak mendapatkan nilai." Ada yang pernah mengalami hal ini tidak semasa sekolah? Atau, mungkin ada yang pernah melakukan ini sebagai guru? Percakapan diatas diambil dari sebuah pengalaman murid. Ia merasa bingung dan sedih karena dimarahi meskipun sudah melakukan seperti yang diinstruksikan, menulis nama dan minta ijin. Setelah membaca dialog diatas bagaimana perasaan kita. Apakah memang muridnya yang sudah kurang ajar? Atau gurunya kurang sabar dan bisa dibilang normal dia marah seperti itu terhadap murid tersebut? Guru adalah manusia dan seb...

Pendidikan seks di kelas 5 SD

"What is wet dream?" "Does menstruation hurt?" "Why there has to be hair growing in my private parts?" Ini adalah sebagian dari pertanyaan pertanyaan yang diajukan murid murid di kelas terkait pubertas. Jadi di kelas 5, awal tahun ajaran ini kita mulai dengan pembelajaran tentang pubertas. Loh, koq? Gak bahaya ta? 😱  Seks dan sekitarnya adalah hal yang anehnya masih tabu untuk dibicarakan terutama di sekolah sekolah di Indonesia. Padahal permasalahan permasalahn remaja terkait ini banyak sekali terjadi dan sekarang ada pada level mengkhawatirkan. Pertimbangan kami adalah akses informasi yang mudah untuk anak anak dengan konten konten yang memgkhawatirkan terkait seks dan sekitarnya, pengatuh pergaulan dan media informasi serta media sosial yang sulit untuk dibendung, serta sebagian besar murid yang ternyata sudah masuk pada masa puber dan memiliki keingintahuan tinggi tentang pubertas. Hal inilah yang membuat kami memutuskan untuk memberikan pemahaman ten...