Skip to main content

Maunya seperti apa sih?

Akhir akhir ini banyak baca berita berita tentang dunia pendidikan dan semua hal yang terkait membuat saya mengelus dada dan istighfar tak kunjung henti. Gak habis pikir otak ini dibuat para "Orang orang pintar " yang seharusnya sudah anteng menikmati kenyamanan dari hasil keringat orang orang kecil yang banting tulang tiap hari. Sisi positifnya kelakuan mereka bikin kita banyak istghfar yang mempertebal iman kita. Astaghfirullah.

Dari jaman saya sekolah sampai sekarang jadi guru, masalah pendidikan di Indonesai ini koq ya gak nemu nemu titik solusi yang pas, atau sudah nemu tapi gak mau. Sudah banyak pengamat ngomong, banyak kritikan disampaikan, bahkan saran saran juga sudah diutarakan tetap seperti dibiarkan angin lalu atau mereka berlagak seperti peribahasa Anjing Menggonggong Kafilah berlalu. Namun, atas nama usaha perwujudan kepedulian membangun pendidikan, studi banding ramai ramai dilakukan. Anggaran ribuan trilyun digelontorkan yang ujungnya entah nyampek kemana untuk membangun program program yang katanya akan memperbaiki kualitan generasi penerus bangsa, dari MBG, Pembuatan sekolah Unggulan (GARUDA). Digitalisasi Pembelajaran (penggunaan Interactive Whiteboard) di sekolah sekolah sampai hal hal tak masuk diakal lainnya. Yang semua berujung ke pemborosan Anggaran (menurut keyakinan gue). Pertanyaan muncul, yang sekarang terjawab satu satu, "Apakah ini solusi?" 

Yang terlintas di pikiranku adalah slogan INDONESIA LAWAK KLUB (ILK) Menyelesaikan Masalah Tanpa Solusi. Bener lagi he he .... adanya Menyelesaikan masalah dengan nambah masalah.

Mereka ini seakan lupa inti masalah pendidikan itu semua berasal dari manusianya, entah itu pembuat kebijakannya, pimpinam pimpinan sekolah, guru, murid bahkan orang tua/wali murid eh malah bingung ngurusi makanan yang konon katanya bergizi sampai pengguanaan teknoloig tidak tepat guna.

Perbaikan pendidikan sangat kompleks memang jika dipikir, tetapi disini saya coba rangkum ya .... ini berdasarkan keyakinan gue dan apa yang saya pahami.

Akademik Vs Kesehatan Mental

Yang sering saya dengar dari murid murid saya:
- Miss, aku capek
- Miss tugasnya koq banyak
- Pulang sekolah ini aku les piano, setelah itu les sepatu roda, les matematika sampai jam 9. Gak sempet ngerjain PRnya banyak les.
- Aku stress ..

Selain keluhan keluhan itu, banyak juga berita berita miris yang saya dapat dan baca dari media sosial, dari TV tentang anak anak yang bunuh diri karena tekanan sekolah, entah tidak naik atau bahkan gagal mendapatkan target mereka, juga ada tekanan sosial yang akan saya bahas di poin lain.

Apa yang terjadi? Apakah anak anak sekarang lebih lemah secara mental dibanding kita dahulu. Malah ada yang berependapat bahwa anak anak sekarang manja, dikit dikit mengeluh, dikit dikit burn out, mental health. Apa bener begitu?

Saya antara tidak setuju tetapi juga setuju. Menurut keyakinan saya permasalahan utama justru bukan di anak anaknya tetapi justru di orang orang dewasa baik orang tua, anggota keluarga yang dewasa bahkan guru-guru yang menjadi contoh dan figur teladan serta otoritas yang mereka pandang.

Waduh, guru lagi guru lagi yang salah .... bukan ini maksud saya. Saya seorang guru dan sebagai guru kita sewajibnya rutin berefleksi, belajar dan berpikiran terbuka. Tadi saya sampaikan tidak hanya guru tetapi figur dewasa di sekitar anak anak.

Saya sering melihat, tidak sedikit orang tua yang menjadikan anak anak mereka sasaran untuk mimpi mereka atau keinginan mereka (orang tua) yang dulu tidak bisa diwujudkan. Orang tua sering memaksakan kehendak mereka seperti sekolah dimana, ambil jurusan apa, harus les ini dan les itu tanpa mencoba berdiskusi dengan anak anak. Ini bukan untuk memanjakan mereka , tetapi untuk mengkomunikasikan tujuan, mencoba memahami kebutuhan mereka dan membuat kesepakatan apa dan bagaimana, sehingga dalam prosesnya anak anak belajar untuk berkomitmen dan sebagai orang tua kita berperan sebagai pemandu serata pendamping.

Ketidakmampuan anak-anak dalam menghadapi stres dan mengelola kondisi psikisnya sering kali justru berakar dari pola yang dibentuk oleh orang-orang dewasa di sekitarnya seperti pembiasaan yang muncul karena rasa kasihan, memilih jalan paling mudah agar tidak repot, atau bahkan demi menjaga gengsi dan kenyamanan diri sendiri, tanpa sadar dapat menjadi penyebabnya, juga termasuk einginan anak yang terlalu mudah dipenuhi tanpa mereka memahami alasan, kebutuhan, maupun tujuan di baliknya, sehingga mereka tidak terbiasa belajar tentang proses, usaha, dan perjuangan. Hal lain yang juga berpengaruh adalah ketidakkonsistenan orang dewasa dalam menerapkan aturan. Pengalaman pribadi saya sendiri (pernah terjadi dan tentu tidak untuk ditiru), ketika sedang lelah sepulang kerja, saya cenderung memberi pembiaran. Misalnya, saat anak meminta bermain gawai di hari sekolah, saya mengiyakan karena merasa terlalu capek untuk berdebat dan menganggap itu sebagai “self reward” setelah hari yang melelahkan. Padahal, dari kebiasaan-kebiasaan kecil seperti inilah anak belajar tentang batasan, disiplin, cara menghadapi rasa tidak nyaman, dan kemampuan mengelola keinginan diri. Mungkin tantangan terbesar dalam mendidik anak bukan hanya mengatur mereka, tetapi juga belajar konsisten mengatur diri kita sendiri sebagai orang dewasa.

Tekanan akademik juga dapat menjadi salah satu penyebab anak kesulitan menghadapi stres dan menjaga kesehatan mentalnya. Harapan orang tua yang tidak disertai ruang diskusi maupun refleksi bersama sering kali membuat kita lupa bahwa anak-anak juga memiliki harapan, minat, dan arah hidup mereka sendiri. Padahal sejatinya, tidak ada anak yang bercita-cita menjadi “buruk”. Mereka unik dan istimewa dengan potensi yang berbeda-beda. Tugas orang dewasa bukan membentuk mereka menjadi salinan dari keinginan kita, melainkan memahami, mendukung, dan tetap mengarahkan mereka agar bertumbuh di jalan yang baik.

Saya cukup sering menemui situasi ketika anak dituntut untuk serba bisa. Hampir semua les diikuti demi mengejar standar tertentu, seolah semakin sibuk anak maka semakin baik pula masa depannya. Di sekolah, tekanan serupa juga terjadi. Fokus yang terlalu besar pada nilai dan pencapaian akademik — yang menurut saya juga dipengaruhi oleh kebijakan maupun penerapan sistem yang belum tepat — membuat sekolah berada dalam tekanan yang tidak sedikit. Ditambah lagi ekspektasi dari orang tua, sekolah akhirnya merasa harus terus mendorong murid mengejar target dengan cara apa pun.

Sayangnya, di tengah semua tuntutan itu, pertanyaan paling sederhana justru sering terlupakan: apakah anak baik-baik saja? Apakah mereka membutuhkan bantuan? Apakah mereka diberi ruang untuk mengevaluasi diri, memahami perasaannya, dan belajar merefleksikan prosesnya sendiri? Pendidikan seharusnya bukan hanya tentang mengejar capaian, tetapi juga tentang memastikan anak tumbuh sebagai manusia yang sehat secara mental, mengenal dirinya, dan mampu menjalani hidup dengan utuh.

Guru dengan terlalu banyak peran

"Enak ya bu Erna, jadi guru, pulangnya siang, pasti banyak waktu buat anak anak nya." 

"Lah kamu capek ngapain aja, kan cuma masuk kelas kasih tugas, duduk nunggu. Ngajar aja koq ngeluh capek."

Pernah dengar komentar macam ini? Saya sering mendengar ini. Bahkan dulu ada stigma seorang ibu rumah tangga kalau mau kerja jadi guru saja, karena bisa mengatur waktunya, lebih santai dan lebih luang. Saya sudah 20 tahun lebih menjadi guru dan fakta yang saya temukan jauh dari anggapan tersebut. Pekerjaan guru seringkali dianggap sebelah mata bahkan jauh dari kata profesional. Guru juuga dianggap sebagai pengabdian bukan pekerjaan.

Ini yang salah kaprah. Mengajar tidak hanya pada saat itu dan selesai begitu jam kelas berakhir. Sama seperti profesi profesi lain, guru juga memiliki periode kerja dan program kerja yang harus dipenuhi (1 tahun ajaran) dan ada target target yang harus diusahakan terpenuhi. Guru harus membuat rencana, pelaksanaan dan evaluasi. Ini yang sering dilupakan bahwa ada waktu waktu yang harus dialokasikan untuk semua proses tersebut dan seharusya itu dilakukan saat jam kerja mereka bukan diluar jam kerja apalagi sampai dibawa pulang. Kenyataan yang saya lihat guru sering membawa perkejaan pulang, belum selesai disistu saat pulang dimana seharusnya waktu itu untuk keluarga, pikiran seorang guru sering diselipi kekhawatiran tentang kelas, murid mereka dan banyak hal. 

Saya melihat guru tidak hanya dibebani tugas terkait mengajar, banyak peran yang diberikan yang kadang tidak memperhitungkan beban kerja. Semua tugas atau beban tambahan diberikan dengan menghitung apakah jam mengajar mereka sudah terpenuhi sesuai aturan dinas yang ada. Ada guru yang menjadi bendahara sekolah, guru yang menjadi koordinator lomba bahkan guru juga sering dibebani tugas untuk menjadi panitia acara acara sekolah layaknya event organizer. Mengesampingkan semua tugas itu, seringkali guru juga yang disalahkan atas jalannya pembelajaran yang tidak sesuai dengan standard ada. GURU JUGA MANUSIA. 

Banyaknya tugas atau beban diluar tugas utama tanpa diberikan kesempatan memahami, diskusi, refleksi ini yang membuat guru lelah secara fisik dan mental. Ini ditambahi dengan orang tua orang tua yang menyerahkan taggung jawab pendidikan sepenuhnya di pundak guru, akademik dan juga perilaku. Para orang tua lupa bahwa guru membantu mereka dalam tanggung jawab mengajar yang fokus sepenuhnya adalah akademik. Moral, perilaku dan sikap berawal dari rumah dan sekolah hanya menguatkan pembiasaan. Saat guru menyampaikan adanya masalah terkait perilaku atau akademik, orang tua sering menyanggah dan mengembalikan itu ke guru, "Koq bisa bu? di rumah dia gak seperti itu?" "Koq anak saya dimarahi, kasihan bu, mentalnya bagaimana nanti?". Seakan guru adalah figur yang 24 jam bersama murid muridnya.

Ini belum dengan beban bergonta gantinya kebijakan, kurikulum, metode, cara yang harus dipatuhi guru, tidak boleh tidak. Pemerintah atau pengambil kebijakan tidak melibatkan dan mempertimbangkan suara guru. Yang terlihat saat pendidikan dinilai tidak berhasil, hasil pencapaian murid murid tidak sesuai harapan, lagi lagi yang disalahkan adalah guru. Inilah yang saya sebut dengan banyaknya peran yang harus dipegang oleh guru, ya guru, ya tugas sekolah lainnya, ya event organizer, ya konsultan, ya orang tua, ya psikolog bahkan ada peran baru petugas bagi bagi tray MBG (eh ....)

Kesenjangan kualitas pendidikan (dengan SPPG ooops ....)

Di tengah upaya meningkatkan kualitas pendidikan, muncul satu ironi yang sering terasa di lapangan: ketika isu pendidikan belum selesai, perhatian publik justru mudah teralihkan ke hal lain. Salah satunya ketika pembahasan sekolah tiba-tiba melebar ke SPPG — Sentra Produksi Pangan Gizi untuk program MBG. Penting? Tentu. Tapi kadang muncul pertanyaan kecil: kok pembahasannya jadi ke sana terus, ya?

Padahal kesenjangan kualitas pendidikan sendiri masih nyata. Ada sekolah dengan laboratorium lengkap, akses teknologi memadai, ruang belajar nyaman, dan dukungan program yang berlimpah. Namun di sisi lain, masih ada sekolah yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar pembelajaran, keterbatasan guru, hingga minim fasilitas pendukung.

Anak-anak datang dari latar belakang berbeda. Ada yang belajar dengan dukungan penuh di rumah, ada yang harus membantu orang tua, menghadapi tekanan ekonomi, atau bahkan kesulitan sekadar mendapatkan lingkungan belajar yang tenang. Tetapi sering kali mereka tetap dituntut mencapai standar yang sama tanpa mempertimbangkan titik awal yang berbeda.

Program gizi seperti MBG memang dapat membantu mendukung kesiapan belajar siswa. Anak yang kenyang tentu lebih siap menerima pelajaran dibanding anak yang lapar. Namun kualitas pendidikan tidak bisa berhenti pada urusan makan saja. Pendidikan tetap membutuhkan guru yang didukung, sistem yang berpihak pada murid, fasilitas yang layak, dan kesempatan belajar yang setara.

Karena kalau tidak, kita akan sibuk membahas apa yang masuk ke perut anak, tetapi lupa memperhatikan apa yang masuk ke pikiran, karakter, dan masa depan mereka.

Sekolah sebagai ajang kompetisi bukan kolaborasi.

Sekolah seharusnya menjadi tempat bertumbuh bersama. Tempat murid belajar memahami diri, bekerja sama, saling mendukung, dan berkembang sesuai potensinya. Namun perlahan, banyak hal di dunia pendidikan berubah menjadi ajang kompetisi. Murid berlomba mendapatkan nilai tertinggi. Sekolah sekolah berlomba menjadi yang paling unggul. Guru  guru berlomba memenuhi target dan pencapaian. Bahkan orang tua kadang ikut terjebak dalam perlombaan yang tidak ada habisnya. Ranking, prestasi, sertifikat, hingga pencapaian akademik menjadi ukuran utama keberhasilan.

Tanpa disadari, suasana ini membuat banyak anak tumbuh dengan ketakutan untuk gagal. Mereka belajar bahwa teman adalah pesaing, bukan rekan belajar. Bahwa kesalahan adalah sesuatu yang memalukan, bukan bagian dari proses berkembang. Padahal di kehidupan nyata, kemampuan berkolaborasi sering jauh lebih penting daripada sekadar menjadi “nomor satu.” Dunia membutuhkan orang yang mampu bekerja sama, mendengarkan, berbagi ide, menyelesaikan masalah bersama, dan menghargai perbedaan.

Ironisnya, pendidikan yang seharusnya mengajarkan nilai tersebut justru sering menghadirkan sistem yang membuat murid sibuk saling membandingkan diri. Anak yang unggul akademik dipuji tinggi, sementara yang berkembang di bidang lain kadang merasa kurang dihargai. 

Kompetisi bukan sesuatu yang sepenuhnya salah. Dalam kadar tertentu, kompetisi bisa memotivasi. Namun ketika kompetisi menjadi pusat segalanya, pendidikan kehilangan makna utamanya: memanusiakan manusia. Mungkin sudah waktunya sekolah kembali menjadi ruang kolaborasi. Tempat anak-anak belajar bahwa bertumbuh tidak harus saling mengalahkan, dan bahwa keberhasilan seseorang tidak mengurangi kesempatan orang lain untuk berhasil juga.

Kurikulum yang sering gonta ganti

Pendidikan membutuhkan arah yang jelas dan proses yang konsisten. Namun dalam kenyataannya, kurikulum sering kali berubah sebelum sistem sebelumnya benar-benar dipahami dan dijalankan dengan matang.

Setiap pergantian kurikulum biasanya datang membawa harapan baru: pembelajaran yang lebih relevan, lebih modern, lebih sesuai kebutuhan zaman. Tetapi di lapangan, perubahan yang terlalu cepat justru sering membuat guru, murid, bahkan orang tua kelelahan menyesuaikan diri.

Guru harus kembali belajar sistem baru, menyesuaikan perangkat ajar, memahami istilah baru, hingga mengejar berbagai pelatihan dalam waktu singkat. Sementara itu, proses adaptasi belum selesai, perubahan berikutnya sudah mulai datang.

Yang paling berat sebenarnya bukan sekadar mengganti dokumen atau metode, tetapi bagaimana perubahan tersebut memengaruhi proses belajar yang nyata di kelas. Fokus guru kadang terpecah antara mendampingi murid dan memenuhi tuntutan administrasi dari perubahan kebijakan.

Ironisnya, inti pendidikan sering tetap sama: anak perlu dipahami, didukung, diberi ruang berpikir, dan dibantu berkembang sesuai potensinya. Namun hal-hal mendasar itu kadang tertutup oleh sibuknya mengejar penyesuaian sistem.

Perubahan tentu diperlukan. Dunia berkembang, pendidikan juga harus berkembang. Tetapi perubahan yang baik seharusnya memberi waktu untuk bertumbuh, bukan sekadar berganti nama, istilah, atau format dalam waktu singkat. Karena pendidikan bukan proyek jangka pendek. Dampaknya tidak terlihat dalam hitungan minggu atau tahun, tetapi dalam bagaimana generasi tumbuh di masa depan.

Hubungan orang tua dan sekolah yang semakin rumit dan ruwet seperti benang kusut.

Dulu, hubungan antara orang tua dan sekolah terasa lebih sederhana. Sekolah dipercaya mendidik, orang tua mendukung dari rumah, lalu keduanya berjalan bersama demi perkembangan anak. Namun sekarang, hubungan itu sering terasa semakin rumit, sensitif, bahkan melelahkan bagi kedua pihak.

Di satu sisi, orang tua memiliki harapan besar terhadap sekolah. Mereka ingin anaknya aman, berkembang, berprestasi, bahagia, dan mendapatkan perhatian penuh. Di sisi lain, sekolah dan guru juga menghadapi banyak tuntutan: target kurikulum, administrasi, karakter murid yang beragam, hingga tekanan pencapaian akademik.

Masalah kecil bisa dengan cepat berubah menjadi konflik besar karena miskomunikasi. Chat singkat dapat disalahartikan. Kritik dianggap serangan. Penjelasan dianggap pembelaan. Akhirnya hubungan yang seharusnya menjadi kerja sama berubah seperti benang kusut yang sulit diurai.

Kadang orang tua merasa sekolah kurang memahami anak mereka. Sementara guru merasa usaha dan kerja keras mereka tidak dihargai. Ada rasa lelah di kedua sisi, tetapi sering tidak benar-benar dibicarakan dengan tenang.

Padahal anak justru membutuhkan hubungan yang sehat antara rumah dan sekolah. Anak akan lebih nyaman belajar ketika melihat orang dewasa di sekitarnya saling percaya, saling mendukung, dan memiliki tujuan yang sama.

Sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Orang tua juga tidak bisa memikul semuanya sendiri. Pendidikan selalu membutuhkan kolaborasi. Bukan hubungan yang penuh kecurigaan, tetapi komunikasi yang terbuka dan rasa saling memahami bahwa semua pihak sedang sama-sama belajar mendampingi anak tumbuh.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan tentang siapa yang paling benar antara rumah atau sekolah, melainkan bagaimana keduanya bisa tetap berjalan searah demi anak-anak.

Akadmik Vs Pendidikan karakter.

Dunia pendidikan sering terjebak pada satu pertanyaan yang seolah memaksa untuk memilih: akademik atau karakter? Nilai tinggi atau sikap baik? Prestasi atau empati? Padahal keduanya seharusnya berjalan berdampingan, bukan dipertentangkan.

Realitasnya, pencapaian akademik masih sering menjadi ukuran utama keberhasilan. Ranking, nilai ujian, sertifikat, dan prestasi lebih mudah terlihat, diukur, dan dipamerkan. Sementara pendidikan karakter membutuhkan proses panjang yang hasilnya tidak selalu langsung tampak. Akibatnya, banyak anak tumbuh dengan tekanan untuk terus berprestasi secara akademik, tetapi kurang memiliki ruang untuk belajar mengelola emosi, memahami orang lain, bekerja sama, atau menghadapi kegagalan dengan sehat.

Kita mungkin berhasil mencetak anak yang pintar menjawab soal, tetapi belum tentu siap menghadapi kehidupan nyata. Padahal dunia tidak hanya membutuhkan orang cerdas, tetapi juga manusia yang jujur, bertanggung jawab, peduli, dan mampu menghargai sesama. Di sisi lain, pendidikan karakter juga sering hanya berhenti menjadi slogan di poster sekolah atau tulisan dalam modul pembelajaran. Dibicarakan saat upacara, tetapi belum tentu benar-benar menjadi budaya sehari-hari.

Karakter tidak tumbuh hanya lewat nasihat. Anak belajar karakter dari lingkungan yang mereka lihat setiap hari: bagaimana guru memperlakukan murid, bagaimana orang dewasa menyelesaikan konflik, bagaimana sekolah menghargai proses, dan bagaimana orang tua mendampingi tanpa hanya menuntut hasil.

Akademik memang penting. Pengetahuan membuka banyak kesempatan. Namun tanpa karakter, kecerdasan bisa kehilangan arah. Sebaliknya, karakter yang baik juga perlu didukung kemampuan berpikir dan belajar yang kuat agar anak mampu berkembang secara utuh. Karena tujuan pendidikan sejatinya bukan hanya menciptakan anak yang pintar, tetapi juga manusia yang baik. 

Semua hal diatas adalah rangkuman dari apa yang saya lihat dan rasakan dilapangan sebagai guru, orang tua dan warga negara yang resah dengan arah pendidikan di negara ini. Saya teringat apa yang saya pelajari di program guru penggerak tentang pandangan Ki Hajar Dewantara tentang hakikat pendidikan. Menurut saya sudah waktunya kita kembali melihat filososfi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan.

  • Pendidikan seharusnya menuntun, bukan menuntut.
  • Pendidikan itu memerdekakan, melahirkan manusia yang merdeka, mandiri dan tidak menggantungakan diri ke orang lain sacara lahir dan batin.
  • Mendidik sesuai semboyan Ing Madya Mangun Karsa, Ing Ngarso Sung Tuladha, Tut Wuri Handayani.
  • Pendidikan diperjuangkan bersama di keluarga, sekolah dan masyarakat.
  • Pendidikan seharusnya mengikuti kodrat alam dan jaman yaitu memperhatikan potensi anak dan menyesuaikan perkembangan jaman (memahami murid sebagai subyek bukan obyek)

Sekian curahan hati saya, sambung lagi segera ....


Comments

  1. Mantap Bu Ely. Saya sepakat dengan semua poin di atas, apalagi ketika sudah terjun langsung di lapangan, ternyata baru disadari memang semua perasaan tersebut valid sekali.

    Bisa Bu tiap postingan dibuat post-nya sendiri-sendiri Bu, agar lebih mudah dibaca dan juga bisa membagi komentar-komentar tentang masing-masing topiknya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

RPP Deep Learning??!!!

"Ini RPPnya kow begini ya, formatnya salah" "RPP merdeka belajar itu seperti apa? tolong dong contohnya." "Teman-teman, yang punya RPP Deep Learning.Tolong share" Percakapan seperti ini sering muncul setiap kali guru berkumpul. Setiap menjelang akreditasi, ribut soal format RPP. Ganti menteri, ribut lagi. Seolah format RPP menjadi hal yang paling penting dalam perencanaan pembelajaran. Padahal, buat saya, RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) bukan soal format atau template baku. Saya lebih suka menyebutnya lesson plan, karena esensinya adalah rancangan yang memandu guru dalam memfasilitasi proses belajar murid. Maka, aneh rasanya kalau semua guru harus mengikuti satu format yang seragam. Setiap guru punya gaya, cara, dan konteks yang berbeda. Fokus seharusnya bukan pada tampilannya, tapi isi RPP itu sendiri. Apakah ia benar-benar mencerminkan proses belajar yang bermakna? Keributan tentang format RPP sering ditemui setiap ketemu teman teman guru.Tiap...

Guru, Emosi dan Murid Bermasalah

Guru: "Kamu kemana tadi? kenapa tidak ikut jam pelajaran saya?" Murid: "Saya ikut sosialisasi bu. Saya sudah menuliskan nama di list, dan katanya akan dimintakan ijin?" Guru: "Gak ada namanu di list, kamu bohong ya?" Murid: "Gak bu, saya sudah menuliskan nama saya." Guru: "Sudah , pokoknya kamu salah." Murid: "Maaf bu, kalau saya salah." Guru: "Dah, kamu tidak usah ikut UH dan tidak mendapatkan nilai." Ada yang pernah mengalami hal ini tidak semasa sekolah? Atau, mungkin ada yang pernah melakukan ini sebagai guru? Percakapan diatas diambil dari sebuah pengalaman murid. Ia merasa bingung dan sedih karena dimarahi meskipun sudah melakukan seperti yang diinstruksikan, menulis nama dan minta ijin. Setelah membaca dialog diatas bagaimana perasaan kita. Apakah memang muridnya yang sudah kurang ajar? Atau gurunya kurang sabar dan bisa dibilang normal dia marah seperti itu terhadap murid tersebut? Guru adalah manusia dan seb...

Pendidikan seks di kelas 5 SD

"What is wet dream?" "Does menstruation hurt?" "Why there has to be hair growing in my private parts?" Ini adalah sebagian dari pertanyaan pertanyaan yang diajukan murid murid di kelas terkait pubertas. Jadi di kelas 5, awal tahun ajaran ini kita mulai dengan pembelajaran tentang pubertas. Loh, koq? Gak bahaya ta? 😱  Seks dan sekitarnya adalah hal yang anehnya masih tabu untuk dibicarakan terutama di sekolah sekolah di Indonesia. Padahal permasalahan permasalahn remaja terkait ini banyak sekali terjadi dan sekarang ada pada level mengkhawatirkan. Pertimbangan kami adalah akses informasi yang mudah untuk anak anak dengan konten konten yang memgkhawatirkan terkait seks dan sekitarnya, pengatuh pergaulan dan media informasi serta media sosial yang sulit untuk dibendung, serta sebagian besar murid yang ternyata sudah masuk pada masa puber dan memiliki keingintahuan tinggi tentang pubertas. Hal inilah yang membuat kami memutuskan untuk memberikan pemahaman ten...