Skip to main content

Posts

Belajar melalui bermain simulasi: Distribusi Global

Kelas 6 belajar tentang sumber daya dan distribusi serta dampak distribusi global terhadap sebuah negara atau sumber daya tersebut.  Di unit ini target capaian pembelajaran adalah siswa bisa menunjukkan pemahaman bagaimana penyebaran sumber daya membawa dampak terhadap kondisi sebuah negara dan apa saja yang dilakukan untuk mengatasi masalah ketimpangan distribusi. Lalu bisa menympulkan bagaimana tanggung jawab individu sebagai anggota sebuah komunitas atau warga berperan aktif dalan distirbusi global. Kegiatan pembelajaran pada setiap unit selalu kami awali dengan provokasi yang dapat menstimulasi dan mengarahkan pemikiran siswa bahwa selama satu unit pembelajaran (6 minggu ke depan), mereka akan mempelajari tentang apa. Provokasi ini juga bertujuan memancing rasa ingin tahu siswa agar mereka mulai bertanya dan melakukan inkuiri terkait isu topik pembelajaran. Murid-murid kelas 6 tahun ini merupakan siswa yang aktif dan lebih mudah memahami pembelajaran melalui kegiatan bergerak s...
Recent posts

Isi hati seorang guru

Berdiri ditengah keriuhan, suara bersahutan Berteriak dari dalam, ingin diperhatikan Mata menatap sekeliling, memindai tiap wajah di ruangan Berlagak menakutkan supaya semua diam memperhatikan Berbicara panjang lebar, menjelaskan, bercerita Menantikan pertanyaan, entah karena paham atau tidak paham Bertanya dan berharap jawaban benar senang salah tidak kalah senang Karena pertanyaan dan jawaban adalah tanda kehidupan Tanda bahwa otak dan hati terhubung, terpaut rasa Semua ini karena rasa sayang, ingin mereka belajar Tumbuh keinginan mencoba dan berani meskipun salah Bangun dan berdiri untuk mencoba Memiliki asa dan memilih untuk berusaha Aku selalu ada untuk mendengarkan, menerima, merasa Di belakang untuk mendorongmu berlari jauh Di depan untuk memberikan semangat Di samping untuk memegangmu kala kau jatuh Aku bukanlah hebat, aku ingin memberikan makna

Alat Pembelajaran: Kartu Peribahasa

Kartu ini saya buat untuk pembelajaran bahasa Indonesia di kelas 6. Sulit sekali mencari alat pembelajaran untuk belajar bahasa Indonesia. Saya juga membuat ini karena banyak murid murid yang tidak tahu tentang perobahasa Indonesia. Kartu ini saya pakai untuk mengenalkan lalu dibahas maknanya. Cara mainnya seperti memasangkan saja Semua kartu ditutup. Kartu dengan background merah adalah baris pertama dan kartu background biru adalah baris kedua. Setiap pemain mendapatkan satu kesempatan membuka kartu merah lalu memasangkan dengan kartu biru. Jika salah harus ditutup lagi dan giliran pemain lainnya. untuk buka dan memasangkan. Pemenang dihitung dari skor memsangkan yang benar dan bisa menebak artinya dengan benar. Silahkan di coba, berikut link filenya yang bisa dicetak dan digunting sendiri yaaaa ... (ini ukuran A3) Link permainan kartu peribahasa;  KARTU PERIBAHASA

Maunya seperti apa sih?

Akhir akhir ini banyak baca berita berita tentang dunia pendidikan dan semua hal yang terkait membuat saya mengelus dada dan istighfar tak kunjung henti. Gak habis pikir otak ini dibuat para " Orang orang pintar " yang seharusnya sudah anteng menikmati kenyamanan dari hasil keringat orang orang kecil yang banting tulang tiap hari. Sisi positifnya kelakuan mereka bikin kita banyak istghfar yang mempertebal iman kita. Astaghfirullah . Dari jaman saya sekolah sampai sekarang jadi guru, masalah pendidikan di Indonesai ini koq ya gak nemu nemu titik solusi yang pas, atau sudah nemu tapi gak mau. Sudah banyak pengamat ngomong, banyak kritikan disampaikan, bahkan saran saran juga sudah diutarakan tetap seperti dibiarkan angin lalu atau mereka berlagak seperti peribahasa Anjing Menggonggong Kafilah berlalu . Namun, atas nama usaha perwujudan kepedulian membangun pendidikan, studi banding ramai ramai dilakukan. Anggaran ribuan trilyun digelontorkan yang ujungnya entah nyampek kema...

Elis di Absurdia

Lama tidak menerbitkan tulisan di blog ini. Maaf .... hari hari ada aja yang bikin capek dan alhasil badan jarang banget bisa diajak konsentrasi menulis. Ini adalah tulisan iseng, fiksi, sebuah cerita yang aku tulis terinsiprasi novel Alice in the Wonderland. Cerita ini sebenarnya bukan fiksi banget, tapi ada sedikit curhatan tentang bagaimana guru seringkali dibebani banyak pekerjaan seakan akan mengajar itu hanya mengajar.... Dah daripada berpanjang-panjang, silahkan dibaca ceritanya ya. Komentar, saran, kritik, kesan setelah baca cerita silahkan ditulis di kolom komentar.  Elis di Absurdia   Hari itu, awal pekan yang baru, bu Elis datang mepet jam masuk. Dia langsung bergegas menuju kelasnya. Ia membawa satu termos kopi hitam pahit dan pekat. Minuman yang selalu dia sruput setiap hari, booster untuk hati dan otaknya sepanjang hari. Entah apa yang akan terjadi jika dia tidak nyeruput minuman favoritnya itu, yang pasti banyak korban yang jatuh karena bu Elis tidak mendapatka...

RPP Deep Learning??!!!

"Ini RPPnya kow begini ya, formatnya salah" "RPP merdeka belajar itu seperti apa? tolong dong contohnya." "Teman-teman, yang punya RPP Deep Learning.Tolong share" Percakapan seperti ini sering muncul setiap kali guru berkumpul. Setiap menjelang akreditasi, ribut soal format RPP. Ganti menteri, ribut lagi. Seolah format RPP menjadi hal yang paling penting dalam perencanaan pembelajaran. Padahal, buat saya, RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) bukan soal format atau template baku. Saya lebih suka menyebutnya lesson plan, karena esensinya adalah rancangan yang memandu guru dalam memfasilitasi proses belajar murid. Maka, aneh rasanya kalau semua guru harus mengikuti satu format yang seragam. Setiap guru punya gaya, cara, dan konteks yang berbeda. Fokus seharusnya bukan pada tampilannya, tapi isi RPP itu sendiri. Apakah ia benar-benar mencerminkan proses belajar yang bermakna? Keributan tentang format RPP sering ditemui setiap ketemu teman teman guru.Tiap...

Menciptakan Perubahan: Catatan Perjalanan di Program Guru Penggerak

Sejak mengikuti Program Guru Penggerak, saya menguatkan paham bahwa mengajar bukan hanya tentang mentransfer pengetahuan, tetapi juga tentang mendidik karakter. Sebuah kutipan yang saya dapat, “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga adalah yang terbaik.” Kutipan ini merangkum esensi pendidikan yang sebenarnya: tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan akademis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan yang mendalam. Dalam perjalanan ini, saya belajar untuk lebih fokus pada pembentukan karakter siswa. Misalnya, ketika mengajar, saya tidak hanya mengejar hasil akademis yang tinggi, tetapi juga mencoba menanamkan nilai tanggung jawab dan kemandirian. Sebagai seorang pendidik, saya merasa bertanggung jawab untuk membantu mereka memahami bahwa kehidupan tidak hanya diukur dari nilai atau prestasi akademis, tetapi juga dari bagaimana mereka berkontribusi pada lingkungan sosial dan komunitasnya. Program Guru Penggerak juga mengajarkan saya untu...