Skip to main content

Posts

Maunya seperti apa?

Akhir akhir ini baca berita berita tentang dunia pendidikan dan semua hal yang terkait membuat saya mengelus dada sambil istighfar terus. Gak habis pikir dibuat para "Orang orang pintar " yang sudah "anteng" menikmati kenyamanan dari hasil keringat orang orang kecil yang banting tulang tiap hari. Tapi sisi positifnya kelakuan mereka bikin kita banyak istghfar yang akan membantu menghapus dosa dosa kita. Dari jaman saya sekolah sampai sekarang jadi guru, masalah pendidikan di Indonesai ini koq ya gak nemu titik solusi yang pas. Banyak pengamat ngomong, banyak kritikan sudah disampaikan, bahkan saran saran juga sudah diutarakan tetap dibiarkan angin lalu atau mereka berlagak seperti peribahasa Anjing Menggonggong Kafilah berlalu. Atas nama usaha perwujudan kepedulian membangn pendidikan, studi banding ramai rmai dilakukan. Anggaran ribuan trilyun digelontorkan yang ujungnya enath nyampek kemana untuk membangun program program yang katanya  akan memperbaiki kualitan g...
Recent posts

Elis di Absurdia

Lama tidak menerbitkan tulisan di blog ini. Maaf .... hari hari ada aja yang bikin capek dan alhasil badan jarang banget bisa diajak konsentrasi menulis. Ini adalah tulisan iseng, fiksi, sebuah cerita yang aku tulis terinsiprasi novel Alice in the Wonderland. Cerita ini sebenarnya bukan fiksi banget, tapi ada sedikit curhatan tentang bagaimana guru seringkali dibebani banyak pekerjaan seakan akan mengajar itu hanya mengajar.... Dah daripada berpanjang-panjang, silahkan dibaca ceritanya ya. Komentar, saran, kritik, kesan setelah baca cerita silahkan ditulis di kolom komentar.  Elis di Absurdia   Hari itu, awal pekan yang baru, bu Elis datang mepet jam masuk. Dia langsung bergegas menuju kelasnya. Ia membawa satu termos kopi hitam pahit dan pekat. Minuman yang selalu dia sruput setiap hari, booster untuk hati dan otaknya sepanjang hari. Entah apa yang akan terjadi jika dia tidak nyeruput minuman favoritnya itu, yang pasti banyak korban yang jatuh karena bu Elis tidak mendapatka...

RPP Deep Learning??!!!

"Ini RPPnya kow begini ya, formatnya salah" "RPP merdeka belajar itu seperti apa? tolong dong contohnya." "Teman-teman, yang punya RPP Deep Learning.Tolong share" Percakapan seperti ini sering muncul setiap kali guru berkumpul. Setiap menjelang akreditasi, ribut soal format RPP. Ganti menteri, ribut lagi. Seolah format RPP menjadi hal yang paling penting dalam perencanaan pembelajaran. Padahal, buat saya, RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) bukan soal format atau template baku. Saya lebih suka menyebutnya lesson plan, karena esensinya adalah rancangan yang memandu guru dalam memfasilitasi proses belajar murid. Maka, aneh rasanya kalau semua guru harus mengikuti satu format yang seragam. Setiap guru punya gaya, cara, dan konteks yang berbeda. Fokus seharusnya bukan pada tampilannya, tapi isi RPP itu sendiri. Apakah ia benar-benar mencerminkan proses belajar yang bermakna? Keributan tentang format RPP sering ditemui setiap ketemu teman teman guru.Tiap...

Menciptakan Perubahan: Catatan Perjalanan di Program Guru Penggerak

Sejak mengikuti Program Guru Penggerak, saya menguatkan paham bahwa mengajar bukan hanya tentang mentransfer pengetahuan, tetapi juga tentang mendidik karakter. Sebuah kutipan yang saya dapat, “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga adalah yang terbaik.” Kutipan ini merangkum esensi pendidikan yang sebenarnya: tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan akademis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan yang mendalam. Dalam perjalanan ini, saya belajar untuk lebih fokus pada pembentukan karakter siswa. Misalnya, ketika mengajar, saya tidak hanya mengejar hasil akademis yang tinggi, tetapi juga mencoba menanamkan nilai tanggung jawab dan kemandirian. Sebagai seorang pendidik, saya merasa bertanggung jawab untuk membantu mereka memahami bahwa kehidupan tidak hanya diukur dari nilai atau prestasi akademis, tetapi juga dari bagaimana mereka berkontribusi pada lingkungan sosial dan komunitasnya. Program Guru Penggerak juga mengajarkan saya untu...

Mewujudkan Budaya Positif

Minggu lalu, sebagai bagian dari implementasi aksi nyata dalam program Guru Penggerak yang sedang saya ikuti, saya mengadakan kegiatan diskusi dan berbagi untuk mendiseminasikan budaya positif di sekolah. Saat memulai modul tentang budaya positif ini, saya merasa sangat antusias. Kebetulan, di awal tahun ajaran ini, beberapa murid curhat kepada saya bahwa mereka tidak menyukai diskusi reflektif karena merasa seperti sedang disidang atas kejadian tertentu, yang pada akhirnya selalu membuat mereka menjadi pihak yang disalahkan. Mereka mengakui bahwa hal ini membuat mereka cepat menyerah dan memilih meminta maaf hanya karena enggan terlibat dalam diskusi yang berlarut-larut, apalagi ketika merasa alasan mereka tidak didengar. Mendengar cerita ini, saya sangat terkejut karena merasa para guru, termasuk saya, sudah dibekali pemahaman tentang praktik budaya dan disiplin positif. Cerita ini membuat saya bertanya-tanya dan merenungkan apakah ada yang salah dalam pelaksanaannya selama ini. Sela...

Koneksi antar materi-kesimpulan dan refleksi modul 1.1

Ditulis oleh Ely CGP 11 kelas 347-A. Saya adalah seorang guru yang selalu ingin belajar. Keputusan saya untuk mengikuti Program Guru Penggerak adalah untuk menambah wawasan dan pengetahuan dalam mengajar. Saya juga ingin memudahkan langkah saya untuk mengembangkan komunitas guru belajar yang saya ikuti. Setelah satu minggu, banyak hal yang saya pelajari, bahkan lebih dari yang saya harapkan! Saya menemukan kembali bahwa guru bukan hanya pengajar tetapi juga pendidik, dengan tugas untuk mengembangkan manusia secara utuh, bukan hanya dari sisi akademik. Melalui berbagai materi, kelas diskusi, dan refleksi, saya ingin berbagi pengalaman saya di awal program ini sambil berefleksi. Di awal kegiatan kelas, saya diajak melihat pendidikan dari perspektif seorang murid dan memahami harapan mereka terhadap sekolah melalui kilas balik ketika bersekolah dulu. Saya juga diajak untuk menelusuri bagaimana pendidikan di masa kolonial dan menemukan bahwa banyak aspek pendidikan dari masa itu hing...

Awal tahun ajaran yang mendebarkan

Setiap tahun hal yang paling membuat perasaan campur aduk adalah saat akhir tahun ajaran. Kita melihat hasil pencapaian siswa yang kita ajar. Pencapaian siswa yang bagus dan sesuai dengan harapan membuat kita ikut merasa bangga dan bahagia, karena membuat kita merasa puas akan hasil kerja. Namun, apabila ada siswa yang pecapaiannya tidak sesuai harapan tak sedikit dari kita merasa geram, sedih dan bingung karena merasa sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi hasil yang didapat meleset. Apa yang salah? Siapa yang salah? Perasaan seperti ini terjadi pada saya setiap saat, bukan hanya saat akhir tahun ajaran. Di awal awal saya mengajar, saya berusaha mencari metode semenarik mungkin dan sekeren mungkin sehingga membuat siswa tertarik dengan pelajaran yang saya ajarkan dengan harapan membuat mereka bisa memahami pelajaran dengan baik. Saya mencari permainan permainan yang menyenangkan. Saya berusaha menciptakan kelas serileks mungkin sehingga siswa lebih merasa tenang, santai dan focus te...