Lama tidak menerbitkan tulisan di blog ini. Maaf .... hari hari ada aja yang bikin capek dan alhasil badan jarang banget bisa diajak konsentrasi menulis. Ini adalah tulisan iseng, fiksi, sebuah cerita yang aku tulis terinsiprasi novel Alice in the Wonderland. Cerita ini sebenarnya bukan fiksi banget, tapi ada sedikit curhatan tentang bagaimana guru seringkali dibebani banyak pekerjaan seakan akan mengajar itu hanya mengajar.... Dah daripada berpanjang-panjang, silahkan dibaca ceritanya ya. Komentar, saran, kritik, kesan setelah baca cerita silahkan ditulis di kolom komentar.
Elis di Absurdia
Hari itu, awal pekan yang baru, bu Elis datang mepet jam masuk.
Dia langsung bergegas menuju kelasnya. Ia membawa satu termos kopi hitam pahit dan pekat. Minuman yang selalu dia sruput setiap hari, booster untuk hati dan otaknya sepanjang hari. Entah apa yang akan terjadi jika dia tidak nyeruput minuman favoritnya itu, yang pasti banyak korban yang jatuh karena bu Elis tidak mendapatkan asupan kafein.
Sambil menunggu jam masuk kelas berbunyi, bu Elis membuka laptopnya. Matanya fokus menatap layar dengan gambar pemandangan yang indah, kontras dengan yang akan dia buka, folder google drive dengan daftar file file yang harus dikerjakan. Dia bingung mau mengerjakan yang mana dahulu. Semua jatuh pada deadline yang sama.
“Bu Elis!’. Suara Pak Kepala tiba tiba terdengan memanggil bu Elis dari luar kelas.
Bu Elis menghampiri pak Kepala, “Ada apa pak?"
“Untuk Proposal dan rencana kegiatan kelas apakah sudah ada? RPPnya sudah lengkap? Sudah diunggah belum?” Nada suara menagih keluar dari mulut pak Kepala.
“Sedikit lagi pak, siang ini” bu Elis menjawab.
“Segera ya bu, semuanya” tekan pak Kepala
“ Baik pak” bu Elis menjawab
‘Aku ini guru atau apa sebenarnya?” gerutunya sambil menuju meja guru di kelas dan kembali menatap layar 12 inchi didepannya. Ia menatap layar yang bertuliskan proposal kegiatan cinta lingkungan di satu tab, di sebelahnya masih banyak tab tab lain yang berjajar seperti menunggu giliran untuk dikerjakan. Tiba tiba layar tersebut berkedip dan huruf huruf yang ada di layar tersebut bergerak acak sendiri membentuk sebuah tulisan baru.
SELAMAT DATANG DI NEGERI ABSURDIA. TEMPAT SEGALA PEKERJAAN PENTINGKAN PENAMPILAN BUKAN MAKNA.
“Apa ini?” bu Elis tampak bingung dengan apa yang terjadi. Tiba tiba dia merasa tersedot ke dalam laptop depan dia.
Dia seperti terjatuh dan terhempas.
Keitka dia membuka mata, bu Elis berdiri di sebuah koridor sekolah yang tampak asing buat dia.
“Aku dimana?” tanya dia dalam hati.
Dia melihat sekeliling dan matanya tertuju pada sebuah tulisan di tembok.
SEKOLAH ABSURDIA - KEPATUHAN ADALAH KEUNGGULAN
Di lorong-lorongnya penuh dengan tulisan motivasi yang aneh.
JANGAN PIKIRKAN MURID. PIKIRKAN TUGAS ADMINISTRASI.
SEMUA HARUS SAMA, PERBEDAAN DAN DIFERENSIASI HANYA MEMBUAT REPOT.
Bu Elis berjalan menyusuri koridor. Di kanan dan kiri ada ruang ruang kelas. Di satu kelas ada guru matematika yang sedang menilai anak berdasarkan tinggi badan.
Di kelas lain. Murid sedang mengarang bebas dengan tema hari hariku. Semua murid mengawali karangannya dengan tulisan pada hari yang membosankan.
Bu Elis bertambah heran dan bingung. “Dimana sebenarnya aku?” tanya bu Elis dalam hati.
Tiba tiba muncullah sosok berkepala besar, tinggi dan bersuara menyeramkan.
“Selamat pagi bu Elis” sapanya, “Selamat datang di sekolah ABSURDIA. “Kami senang kedatangan guru baru di sekolah ini. Disini semua harus taat aturan, tidak boleh terlalu banyak ide dan berpikiran kritis.”
Bu Elis menatap waspada, “Taat aturan? Maksudnya? Tidak boleh banyak ide dan kritis? Bagaimana kalau aturan aturannya justru membuat murid kehilangan motivasi?” tanya bu Elis dengan nada protes.
“Hahahaha..” Pak Kepala tertawa terbahak bahak, “MOTIVASI. Yang penting nilai rata rata sudah baik. Tidak penting MOTIVASI.’ lanjut pak Kepala.
Dari belakang pak Kepala muncul beberapa guru berbaris dengan tanda di dada mereka, GURU HEBAT 1, GURU HEBAT 2, GURU HEBAT 3, dan seterusnya. Mereka melihat bu Elis sambil berlalu dengan tatapan tidak bersahabat seakan bertanya tanya “Ngapain makhluk aneh ini ada disini?”
Hari berganti hari dan bu Elis merasa muak dengan keabsurdan di sana. Setiap kali dia mencoba mengajak muridnya berpikir kritis, alarm akan berbunyi “PENYIMPANGAN METODE. BERBAHAYA”.
Ketika dia memuji hasil karya anak dan menghargai hasil usaha mereka, alarm berbunyi,”DISKUALIFIKASI! GURU MEMASUKKAN IDE BERBAHAYA. MEMULAI KREATIVITAS.”
Akhirnya, tidak bisa menahan diri lagi lebih lama, bu Elis pergi ke ruang kepala.
“Pak sudah pak, saya tidak bisa mengajar seperti ini lagi. Anak anak jadi kehilangan rasa ingin tahu pak. Mereka kehilangan semangat belajar.
Pak Kepala menjawab, ‘Rasa Ingin tahu bukanlah indikator keberhasilan, bu Elis, tapi nilai rata rata di laporan”
“Tapi pak, tanpa rasa ingin tahu, tidak ada artinya belajar. Tidak bisa pak” sanggah bu Elis.
“Kalau begitu tempat anda bukan disini bu. Dengan rasa ingin tahu, anak anak jadi lebih banyak bertanya dan kritis. Itu yang tidak bisa diterima disini. Mereka akan jadi pembangkang, tidak patuh dan itu merepotkan.”
Bu Elis pun pergi meninggalkan ruangan pak Kepala, kecewa dengan jawaban pak Kepala.
Dia terus berjalan di sepanjang koridor menuju kelasnya kembali.
Saat hampir tiba di pintu kelasnya, melalui jendela kelas, seorang murid bernama Kimi, mengucapkan sesuatu, “Bu kami masih ingin belajar bersama ibu. Kami ingin belajar dengan cara ibu. Tolong jangan berhenti bu.”
“Iya bu, jangan tinggalkan kami.” ucap murid murid kelas bersama sama.
Apa yang disampaikan murid murid memberikan semangat baru dan bu Elis pun bertekad ingin tetap mengajar dengan caranya dan tetap mencoba memahami muridnya.
Mereka mulai belajar kembali seperti biasa - berdebat, berdiskusi, bereksperimen, menulis ide ide liar luar biasa, menggambar impian tentang “sekolah impian” mereka.
Setiap kali Alarm sekolah berbunyi saat yang dianggap pelajar terjadi, bu Elis menuliskan di papan KREATIVITAS TIDAK BUTUH IJIN. BELAJAR HARUS MERDEKA.
Dan entah bagaimana, setiap kali tulisan tulisan merdeka belajar itu muncul, poster poster aturan di sekolah Absurdia jatuh dan tembok menjadi lebih berwarna.
Bu Elis membuka mata lagi dan tiba tiba dia ada di depan laptopnya lagi di ruangan kelas dia. Tapi ada satu kalimat yang terlihat dilayar.
TETAPLAH SEMANGAT MENJADI GURU YANG MERDEKA DAN MENGAJARKAN MURID UNTUK MENCINTAI BELAJAR.
Senyum bu Elis merekah. Suara suara murid berdatangan dari lapangan bawah menuju kelas. Bu Elis pun bersiap untuk menyapa murid murid mereka dan bersemangat belajar bersama murid murid tercinta. Ia tersenyum dan berbisik “Mungkin Absurdia bukanlah nyata, tapi pesan yang disampaikan nyata dan JELAS"
Comments
Post a Comment